• Minggu, 14 Agustus 2022

Candi Borobudur Fokus untuk Konservasi, Bukan Komersialisasi

- Senin, 13 Juni 2022 | 19:59 WIB
Pembatasan pengunjung yang naik ke Candi Borobudur demi kepentingan konservasi.  (bumn.go.id)
Pembatasan pengunjung yang naik ke Candi Borobudur demi kepentingan konservasi. (bumn.go.id)

TangerangRaya.id - Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko Edy Setijono menekankan bahwa kebijakan pembukaan akses naik ke Candi Borobudur dengan pembatasan kuota bagi wisatawan bukan untuk tujuan komersialisasi, namun upaya melindungi kelestarian bangunan Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991 ini.

“Fokus kita bukan komersialisasi, tapi konservasi menjaga cagar budaya. Kita hanya memastikan hanya pihak-pihak tertentu, yang diizinkan untuk mengakses tersebut. Sementara bagi yang kurang relevan kegiatannya, akses terbatas hingga pelataran saja,” terang Edy Setijono dalam diskusi daring Membicarakan (Lagi) Borobudur: Antara Konservasi dan Pariwisata di Yogyakarta.

Baca Juga: PT TWC Siapkan Sandal Upanat untuk Naik ke Candi Borobudur

Penetapan tarif, menurut Edy harus sesuai dengan konsekuensi dari aktivitas yang dilakukan selama di atas candi.

“Orang yang naik membawa konsekuensi caring capacity. Adanya tarif bukan wajar atau tidak wajar, ini keberpihakan dengan upaya pelestarian kita. Maka kita harus mempersiapkan teknisnya. Unsur konservasi ini akan kita bahas terus,” lanjutnya.

Pemetaan kategori pengunjung dilakukan untuk menentukan siapa yang mengisi kuota pengunjung Candi Borobudur yang dibatasi maksimal 1.200 orang per hari.

Baca Juga: Ganjar dan Luhut Sepakat Tunda Kenaikan Tarif Naik Candi Borobudur

PT TWC mengusulkan kepada pemerintah tiga kategori pengunjung yang bisa mengakses naik bangunan Candi Borobudur tanpa ada pungutan biaya alias gratis, yaitu tamu negara, pemimpin upacara keagamaan dan warga negara Indonesia (WNI) yang memperoleh izin atau rekomendasi dari otoritas yang akan ditentukan pemerintah.

“Bagi pengunjung yang tidak masuk dalam tiga kategori tersebut, tetap boleh naik Candi Borobudur asalkan bersedia dikenai tarif tiket yang tinggi meski besarannya hingga kini masih dikaji. Bagi yang tidak termasuk tiga kategori itu, harus mau ditreatment khusus yaitu dengan tarif," lanjutnya.

Menurut Edy, gagasan penerapan tarif tiket yang tinggi terhadap kelompok pengunjung di luar tiga kategori itu sama sekali tidak berkaitan dengan komersialisasi.

Baca Juga: Bus Listrik Produksi Anak Negeri Unjuk Gigi di Borobudur

Usulan kebijakan itu semata-mata untuk membatasi pengunjung yang naik Candi Borobudur demi kepentingan konservasi atau pelestarian bangunan fisik candi.

"Kalau merasa berat karena membayar mahal, ya, tidak usah naik Candi Borobudur. Mereka cukup menikmati dari pelataran saja, 'kan masih bisa melihat dari pelataran," tutupnya.***

Editor: Saptorini

Sumber: tangerangraya.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menko PMK Serukan Aksi Nyata Ayo Berkoperasi

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 17:14 WIB

Regulasi Baru, Tarif Ojek Online Bakal Naik

Selasa, 9 Agustus 2022 | 09:17 WIB
X